Dalam dunia sepak bola, ada banyak sekali pendekatan yang dapat dilakukan. Tidak jarang pendetakan ini menjadi salah satu identitas dari salah satu klub. Misalnya seperti saat membahas gaya “Kick & Rush”, tentu setiap orang sudah berpikir tentang Inggris. Begitu juga saat seseorang menyebut istilah “Catenaccio”, tentu nama Timnas Italia akan muncul di pikiran penggila bola.

Pendekatan Kick & Rush Inggris

Bukan kebetulan seandainya “Kick & Rush” adalah pendekatan permainan bola panjang yang kerap diaplikasikan oleh tim-tim dari Inggris. Pertama kali muncul, pendekatan “Kick & Rush” adalah hanya diperlukan 3 umpan untuk dapat membobol gawang tim-tim lawan.

Sekitar tahun 1990-an lalu, Charles Hughes mengklaim jika pendekatan umpan panjang adalah salah satu formula terampuh untuk memenangkan pertandingan. Orang inilah yang dikenal sebagai seorang Profesor “Kick & Rush”. Dia pun sempat menjadi direktur kepelatihan FA (Federasi Bola Inggris).

Pendekatan yang dilakukan oleh Charles Hughes adalah mencetak gol dengan hanya 5 X umpan. Hal ini dianggap sangat efektif seandainya tim tersebut mempunyai pemain-pemain berpostur tinggi besar. Dan saat tim mengalami tekanan kemudian melancarkan Counter Attack (serangan balik).

Dalam hal ini, Charles Hughes memberikan garis bawah untuk memaksimalkan setiap bola-bola mati atau set-piece maupun crossing ke daerah berbahaya tim lawan. Jika menerapkan pendekatan ini, target adalah area dimana setiap pemain diwajibkan untuk berlari menuju ke salah satu titik tujuan. Namun, pendekatan “Kick & Rush” mulai dianggap membosankan dan ketinggalan jaman.

pxhere.com

Pendekatan Catenaccio Italia

Tidak hanya pendekatan “Kick & Rush” yang dianggap membosankan. Pendekatan “Catenacio” juga dianggap serupa. Padahal pendekatan ini sukses mengantarkan Italia meraih gelar juara World Cup tahun 1982 lalu. Pendekatan ini sering dilakukan oleh tim-tim yang tidak mempunyai kualitas memadai dan hanya bermodal keberuntungan (Luck) saja.

Kata “Catenaccio” sendiri mempunyai arti “Park The Bus” atau “Parkir Bis”. Pendekatan ini dilakukan dengan cara menumpuk banyak pemain di sektor pertahanan. Seorang pelatih harus memastikan area ini benar-benar terkunci. Sehingga semua serangan yang dilancarkan oleh tim-tim lawan dapat dihentikan. Ada 1 pemain yang memiliki tugas sebagai seorang “Sweeper”. Tugasnya adalah menyapu bersih setiap bola yang masuk ke dalam area berbahaya.

Setelah alur serangan tim lawan sukses dihentikan, pemain Gelandang diharuskan untuk mengambil bola kemudian memberikan assist pada pemain-pemain depan (penyerang). Pola ini mulai dikenal dengan nama “Serangan Balik Cepat”.

pxhere.com

Pendekatan Cantik “Tiki Taka” Spanyol

Pendekatan “Tiki Taka” diperkenalkan oleh pelatih Pep Guardiola bersama dengan “Blaugrana” Barcelona. Pendekatan ini sangat memprioritaskan pola dan juga total umpan yang dihasilkan untuk setiap pertandingan. Dengan istilah “Ball Possesion” untuk menghasilkan hasil akhir terbaik untuk setiap pertandingan.

Pendekatan “Tiki Taka” ini mewajibkan setiap pemain harus benar-benar memahami kemana dia harus melakukan gerakan. Kesabaran dan control emosi tingkat tinggi sangat dibutuhkan. Pendekatan ini semakin populer dan bagaikan 2 wajah berbeda dengan pendekatan “Kick & Rush”.

Timnas Spanyol dan Barcelona adalah tim yang menjadikan pendekatan “Tiki Taka” sebagai “TUHAN”. Pendekatan ini juga dinilai sangat cantik karena selalu memperlihatkan skema menarik dan offensive. Bahkan Timnas Spanyol dan Barcelona sempat menjuarai hampir semua kompetisi yang ada di muka bumi ini saat melakukan pendekatan “Tiki Taka”. Namun, strategi “Contra Tiki Taka” pun hadir saat Spanyol takluk di ajang World Cup edisi tahun 2014 lalu. Dimana saat itu, tim lawan berhasil merusak kecantikan pendekatan “Tiki Taka” dengan gaya “Catenaccio”. Kemudian melakukan serangan balik cepat!

pxhere.com

Pendekatan Berbeda Timnas Indonesia

Sementara Indonesia di bawah arahan pelatih baru Simon McMenemy mengusung pendekatan berbeda. Pelatih berkebangsaan Skotlandia ini mengubah pendekatan “Tiki Taka” yang coba dilakukan oleh pelatih sebelumnya, Louis Milla.

Simon McMenemy lebih memilih untuk melakukan pendekatan skema 3-4-3. Dimana pendekatan yang dilakukan Simon sangat bergantung pada kerja sama 3 pemain depan Timnas.

Mantan pelatih FC Bhayangkara ini juga menerapkan pendekatan “Double Pivot” di sektor tengah. Kedua “Pivot” ini mempunyai peran memutus alur serangan maupun men-delay alur permainan Timnas. Sementara pada era Milla, pendekatan pressing ini tidak berlaku untuk Timnas. Pelatih Spanyol ini lebih memilih melakukan pendekatan pertahanan dengan melakukan pressing hanya ketika lawan masuk ke dalam daerah pertahanan.

pxhere.com

McMenemy juga lebih memprioritaskan pendekatan efektif dari pada gaya “Ball Possesion” milik Milla. Tidak jarang pemain-pemain belakang Timnas langsung melakukan operan jauh menuju ke daerah pertahanan lawan.

Kedua pelatih jelas mempunyai pendekatan yang sangat jauh berbeda. Dimana Milla melakukan pendekatan dengan mengharuskan pemain berlama-lama bersama bola. Permainan akan selalu disusun dan dirancang dari sektor pertahanan sendiri. Kemudian mengalir menuju sektor tengah sebelum masuk ke barisan striker. Skema yang kerap diterapkan Milla untuk pendekatan filosofinya adalah 4-2-3-1. Dimana 1 penyerang depan ini mempunyai peran sebagai seorang “FALSE NINE” seperti halnya David Villa dalam pendekatan “Tiki Taka” milik Barcelona.

Inilah informasi berita liga Indonesia tentang beberapa pendekatan sepak bola modern. Masih ada banyak pendekatan lain seperti contohnya “Total Football” milik Belanda atau “Joga Bonito” milik Brazil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *